Penulis : Siti Khofifah, S. Pd, M. Pd
Diterbitkan: 15 Desember 2022
COACHING
UNTUK SUPERVISI AKADEMIK DALAM PEMBELAJARAN BERDEFERENSIASI DAN PEMBELAJARAN SOSIAL
EMOSIONAL YANG BERPIHAK PADA MURID
Paradigma
berfikir Coaching dalam melaksanakan supervisi akademik merupakan pengetahuan yang perlu
dipahami semua pendidik, dan ini merupakan materi baru yang harus dikuasai, selalu
diasah dengan melakukan sharing berbagi
praktek baik. Kita harus tahu bahwa tujuan supervisi akademik adalah untuk
mengembangkan kompetensi pendidik dalam melakukan pembelajaran yang berpihak
pada murid melalui pembelajaran berdeferensiasi dan pembelajaran sosial
emosional. Diawali pendekatan dengan
paradigma berpikir coaching, maka supervisi akademik dilakukan dengan semangat
yang memberdayakan dan sebagai kunci pembuka potensi seorang murid untuk
memaksimalkan potensinya, sehingga
ketrampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk
menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) murid agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan
sebagai manusia maupun anggota masyarakat.
Sebagai langkah
awal, Apa sebenarnya Coaching dan Bagaimana peran pendidik sebagai
seorang coach di sekolah itu? Tentunya peran kita di sekolah adalah sebagai Coach bagi murid
kita dan teman sejawat kita (Coachee).
Dalam Coaching, seorang coach membantu seorang coachee
untuk menemukan kekuatan dirinya dengan pendekatan komunikasi yang
terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan penuh kasih dan
persaudaraan. Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses
kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi hasil dan sistematis,
coach memfasilitasi peningkatan performa kerja, pengalaman hidup,
pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant,
1999). Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar
daripada mengajarinya. International Coach Federation (ICF) juga
mendefinisikan coaching sebagai bentuk kemitraan bersama
klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan
profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan
mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Dari uraian tersebut sedah jelas
bahwa tugas seorang coach (pendidik/pamong) adalah mengembangkan
kekuatan dan potensi diri coachee. mendorong Coachee berpikir
secara kritis sehingga mampu membuat perencanaan dan melaksanakan solusi dari
permasalahan yang dihadapi. Agar coaching berkualitas maka Coach harus
menguasai paradigma berpikir coaching meliputi: Fokus pada coachee/rekan
yang akan dikembangkan, bersikap terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran
diri yang kuat dan mampu melihat
peluang baru dan masa depan, dengan mnggunakan prinsip coaching meliputi:
“kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi. Adapun 3 kompetensi yang
harus dimiliki agar dapat melakukan proses coaching dengan
baik, yaitu:(1) Kehadiran Penuh/Presence
atau disebut sebagai coaching presence sehingga
kesadaran dir, badan, pikiran, hati selaras saat sedang melakukan
percakapan coaching dengan Coachee, (2). Mendengarkan Aktif atau
sering kita sebut dengan menyimak. Seorang coach yang
baik akan mendengarkan lebih banyak dan lebih sedikit berbicara, fokus dan
pusat komunikasi adalah pada diri coachee, yakni mitra bicara,(3).Mengajukan
Pertanyaan Berbobot yang menggugah diri coachee untuk berpikir
dengan alur R-A-S-A (Receive, Appreciate, Summarize,
Ask). Dengan model coaching berupa Alur Percakapan T-I-R-T-A yang dikembangkan dari GROW model ( Goal, Reality, Options,
Will) maka akan mampu melakukan coaching dengan baik. Goal
terkait apa tujuan yang hendak dicapai coachee, Reality terkait proses menggali semua hal yang
terjadi pada diri coachee, Options terkait dengan coach membantu
coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran yang nantinya akan dijadikan
sebuah rancangan aksi. Will (Keinginan untuk maju) terkait komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana
aksi sanakannya. Dalam pelaksanakannya sama persis dengan alur TIRTA (Tujuan,
Identifikasi,Rencana Aksi Tanggungjawab).
Lalu Bagaimana keterkaitan Coaching dengan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi? Tentunya ketrampilan Coaching harus dimiliki pendidik dalam melakukan pembelajaran berdeferensiasi dan pembelajaran sosial emosional, karena kompetensi dan perasaan, emosi murid itu sangat beragam. Dengan coaching, seorang pendidik akan mampu menggali potensi murid untuk menemukan kebutuhan belajar muridnya terkait kesiapan belajar, minat dan profil belajar, mengenal emosinya, sehingga murid akan mampu menyelesaikan masalah yang terjadi pada dirinya. Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun’ tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Oleh sebab itu keterampilan coaching perlu dimiliki oleh pendidik untuk menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara pendidik dan murid, yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan untuk menggali potensi murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya. Pendidik perlu menguasai kerangka berpikir Ki Hajar Dewantara sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan coaching dan mampu berperan sebagai ‘pamong’ yang memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada, agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya. Proses coaching yang berhasil akan memotivasi murid untuk menjadi lebih baik karena mereka merasakan potensi mereka tergali dan berkembang seiring dengan proses dan hasil dari coaching yang telah mereka lakukan. Pertanyaan reflektif dalam coaching akan membuat murid melakukan metakognisi dan berpikir kritis untuk mengexplor diri untuk menemukan kemerdekaannya dalam belajar,melalui Pembelajaran berdeferensiasi kontek, proses dan produk ditunjang dengan PSE yang menumbuhkembangkan 5 kompetensi sosial emosional meliputi kesadaran diri, managemen diri, kesadaran sosial, ketrampilan relasi dan mengambil keputusan yang bertanggung. Adapun implementasi PSE dapat dilakukan melalui pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik, menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah dan penguatan pembelajaran sosial emosional pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah. Dalam pengajaran sosial emosional ada 2 hal yang harus diberikan pendidik meliputi: (1)Mindfullness (kesadaran penuh) dengan teknik STOP, mendengarkan dengan sadar dan melihat dengan sadar dan (2). 5 kompetensi sosial emosional (KSE). jusedang untuk dengan menggunakan teknik : STOP (Stop,Take a breath, Observed, Proceed), POOCH (problem, option, outcames, choices), Roda emosi Pluchit dan melakukan resilisiensi dengan 3 sumber: 1 Have, I am dan I can. Dan Metode I message. You-Message. sudah pasti akan tercipta pembelajaran yang berpihak pada murid dan akan melahirkan generasi emas dengan profil pelajar pancasila sebagai genrasi penerus bangsa
Sekarang dari
aspek pendidik, yang harus dipertanyakan adalah “Bagaimana keterkaitan
keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai
pemimpin pembelajaran?’ Tentunya dengan ketrampilan Coaching
yang semakin baik akan menjadi bukti bahwa seorang pendidik akan mampu berperan
sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid. Seorang pendidik akan
mampu memfasilitasi pembelajaran dengan model dan metode yang peningkatan potensi
murid, mampu memotivasi murid untuk menggali potensinya sendiri sebagai bekal
menyelesaikan permasalahan yang sedang dhadapinya guna mencapai kemerdekaan
dalam belajar. Paradigma berpikir coaching pada kegiatan supervisi akademik
merupakan kegiatan berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi pendidik sebagai
pemimpin pembelajaran dalam melaksanakan pembelajaran yang berpihak kepada murid.
Adapun pelaksanaan supervisi akademik pada pendidik terdiri dari tahapan (1). pra-observasi
(persiapan), (2).tahapan observasi (pelaksanaan), dan (3). pasca-observasi
(pelaporan dan tindak lanjut). Tahap Persiapan, meliputi (a)menyiapkan
instrumen dan (b)menyiapkan jadwal bersama, (2) Tahap Pelaksanaan, yaitu
pelaksanaan observasi supervisi baik secara langsung maupun tidak langsung, (3)
Tahap Pelaporan, meliputi: (a) mengidentifikasi hasil pengamatan pada saat
observasi, (b)menganalisishasil supervisi, (c)mengevaluasi bersama antara
supervisor dengan kepala sekolah danguru, (d)membuat catatan hasil supervisi
yang didokumentasikan sebagai laporan (4) Tahap Tindak lanjut, meliputi:
(a)mendisukusikan dan membuat solusi bersama, (b)memberitahukan hasil pelaksanaan
supervisi akademik, dan (c)mengkomunikasikan hasil pelaksanaan supervisi akademik
kepada kepala sekolah dan guru.
Akhirnya Semoga
share praktik baik dengan melalui artikel ini bisa bermanfaat bagi teman sejawat dan
semakin tertantang untuk melalukan pengimbasan dan menjadi seorang coach yang
lebih baik bagi semua teman seprofesi demi kemajuan dalam dunia pendidikan ,jayalah
pendidikan, jayalah murid dan guru

Komentar
Posting Komentar