JURNALREFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM BERDAMPAK POSITIF PADA MURID
JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN
MODUL 3.3
PENGELOLAAN
PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF YANG MURID
Oleh PGP-6-Kabupaten
Gresik-Siti Khoifah-3.3-Aksi Nyata
Pada saat mempelajari modul 3.3 pengelolaan program yang berdampak positif pada murid, hal baik yang saya rasakan adalah saya memiliki pengalaman belajar yang yang bermakna. Sebagai pendidik saya semakin memahami bahwa semua program yang kita buat harus melatih kepemimpinan muris. Suatu program dikatakan bisa berdampak positif bagi murid jika melatih kepemimpinan murid (student agency). Ketika murid sebagai “Student agency” tentunya murid akan memiliki suara (Voice), pilihan (Choice), dan kepemilikan (Ownership) yang mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri. Pada modul ini ada tuntutan aksi nyata membuat suatu program yang berdampak positif pada murid sesuai dengan visi sekolahnya masing-masing. Visi SMAn 1 Sidayu salah satu aspeknya adalah sekolah berwawasan global, sehingga program yang saya buat adalah terkait literasi yaitu “TUNGGU TUPUS”. Adanya beberapa fakta meliputi: Minat literasi peserta didik masih rendah dan belum menunjukkan keberhasilan, hasil rapor mutu terkait literasi dengan nilai yang belum maksimal, Program sekolah menulis hanya sedikit peserta didik yang ikut, Data digital kunjungan perpustakaan rendah, Reward bagi yang paling banyak berkunjung ke perpustakaan tdak berdampak positif pada minat literasi, Era industri 4.0 menuntut peserta didik memiliki kecakapan/ ketrampilan abad 21, salah satuanya adalah kemampuan literasi, Wawasan akademik dan non akademik harus dimiliki peserta didik supaya mampu bersaing dalam kanca global. Adanya fakta yang ditemukan setelah wawancara dengan pengelolah perpustakaan, data digital menunjukkan bahwa jumlah peserta didik yang berkunjung ke perpustakaan dalam waktu satu pekan hanya sebesar 25% dari 1087 peserta didik, Hal ini mengindikasikan bahwa minat literasi peserta didik SMAN 1 Sidayu masih rendah.
Berdasarkan fakta tersebut sangat penting adanya prakasa perubahan yang dibuat terkait Program literasi. Salah satunya adalah program”TUNGGU TUPUS” Dengan alasan, Pada era revolusi industri 4.0 dibutuhkan kecakapan/ ketrampilan abad 21 yang harus dimiliki peserta didik dengan harapan kelak mereka menjadi generasi emas di tahun 2045 yang mampu bersaing dalam kanca global. Ketrampilan abad 21 berupa kompetensi 4C, mempunyai kualitas karakter yang baik(NKRI Go) dan memiliki kompetensi literasi meliputi numerasi, bahasa, sains, digital, finansial , budaya dan kewargaan. Hal ini menunjukan bahwa kemampuan berliterasi sangat penting karena dapat menguatkan wawasan akademik maupun non akademik dengan pola berfikir positif dan emosi positif.
Kemudian aksi nyata saya lakukan, diawali dengan wawancara dengan kepala sekolah, dengan hasil ternyata keberhasilan program literasi juga masih rendah yang didukung fakta hanya ada 10 peserta didik sebagai anggota program sekolah menulis. Lalu saya lakukan wawancara dengan peserta didik yang berkunjung ke perpustkaan, banyak dari mereka mengatakan kesukaannya dalam membaca novel, cerpen, biografi, kisah orang-orang hebat namun belum ada mereka yang ingin berkarya dengan menulis. Dari fakta yang saya peroleh maka saya merencanakan suatu program Kokurikuler berupa “Tunggu Tupus (satu minggu minimal satu kali ke perpustakaan)”. Dialog terus berlanjut dengan pertanyaan bagaimana kalau ada program “tunggu tupus” yang disertai dengan pelatihan menulis dan dihasilkan suatu karya yang diterbitkan pihak sekolah bagi yang lolos seleksi? ALHAMDULILLAH, mereka mendukung program tersebut, demikian juga ketika dilakukan dialog dengan perwakilan tiap tiap kelas.
Ada perasaan sangat senang, bersyukur sekali dan bangga dari hasil dialog yang mendukung adanya program”TUNGGU TUPUS”. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada motivasi intrinsik dalam diri peserta didik untuk meningkatkan minat literasinya dengan melakukan kunjungan satu minggu satu kali ke perpustakaan untuk membaca karya-karya sesuai minatnya yang pada akhirnya mereka akan diberi pelatihan dalam membuat sebuah karya menulis. Antusies peserta didik untuk mendukung keterlaksananya program “Tunggu Tupus” menambah rasa optimistik dan kepercayaan diri saya dalam pencapaian keberhasilan program tersebut. Kepala sekolah, teman sejawat, pengelolah perpustakaan, wali kelas yang juga mendukung dan memberikan ruang untuk sharing kepada saya dalam melaksanakan program tersebut, sehingga saya yakin dengan selalu mengedepankan dialog dan kerjasama secara kolaboratif akan terlaksananya program ini dengan baik dan terus berkelanjutan.
Pembelajaran yang di dapatkan dari aksi nyata ini adalah terwujudnya kepemimpinan murid melalui program satu minggu satu kali ke perpustakaan {Tunggu Tupus}. Dalam proses dialog yang terjadi mampu menciptakan karakteristik lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif, merasakan emosi yang positif dan melatih keterampila dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya. Program “Tunggu Tupus”, merupakan kegiatan kokurikuler yang mampu meningkatkan minat literasi sekaligus menguatkan wawasan akademik maupun non akademik dengan pola pikir positif dan emosi positif kepada peserta didik SMAN 1 Sidayu. Mereka memiliki suara, berkarya sesuai bakat minatnya yang mampu melatih anak dalam berfikir positif dan emos positif dengan kompetensi sosial emosional yang mereka miliki. Pada aksi nyata tahap Define dan Discover pada Model BAGJA ini terkait pelaksanaan program “Tunggu Tupus”sudah mampu mengembangkan karakter profil pelajar pancasila meliputi:
1. Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, menumbuhkembangkan kepemimpinan murid untuk memiliki akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam dan akhlak bernegara melalui literatur keagamaan yang dibaca
2. Berbhinekaan global, mendorong kepemimpinan murid untuk berwawasan luas untuk mengenal dan menghargai budaya, mempertimbangkan dan menumbuhkan berbagai perspektif, berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan bersama
3. Bergotong royong, mendorong kepemimpinan untuk memungkinkan kerja sama, komunikasi untuk mencapai tujuan bersama, peduli terhadap lingkungan sosial dan persepsi sosial
4. Mandiri, mendorong kepemimpinan untuk mengenali kualitas dan minat diri serta tantangan yang dihadapi, berkomitmen dan menjaga konsistensi pencapaian tujuan yang telah direncanakannya dalam menulis karya.
5. Bernalar kritis, mendorong kepemimpinan untuk mengajukan pertanyaan, mengidentifikasi, mengklarifikasi, dan mengolah informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran dan prosedurnya, serta merefleksi dan mengevaluasi pemikirannya sendiri ketika dialog terjadi dan ketika memilih sebuah karya yang akan dibuat
6. Kreatif, melatih kepemimpinan murid untuk menghasilkan gagasan yang orisinal dan menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal terkait karya tulis yang diciptakan.
Pelaksanaan di masa mendatang saya akan berdiskusi dengan kepala sekolah dan rekan guru dalam menyusun kegiatan pelatihan menulis sebuah karya, berdialog dengan murid terkait pelatihan yang diiginkan, komitmet membuat catatan setiap tahapan, membuat daftar kegiatan baru untuk mengoptimalkan pencapaian menghasilkan karya dari program Tunggu Tupus, diskusi dengan peserta didik untuk mengenal dan menemukan aset internal yang ada dalam dirinya dan aset eksternal yang mendukung keberhasilan program “Tunggu Tapus” yang dapat meningkatkan literasi murid sekaligus menguatkan wawasan akademik maupun non akademik dengan pola pikir positif dan emosi positif. Saya juga akan berdialog dengan murid terkait pelaksanaan program”Tunggu Tupus”yang menarik dan yang diinginkan, perencanaan langkah-langkah kegiatan, kesiapan dan komitmen peserta didik untuk ikut terlibat dalam mensuksekan dan evaluasi yang pada akhirnya nanti murid berkomitmen kuat untuk selalu belajar dan menghasilkan karya yang lebih berkualitas. Saya juga akan berdialog dengan kepala sekolah terkait pihak penerbitan dan biaya penerbitan karya yang lolos seleksi serta pemberian apresiasi berupa reward kepada peserta didik dengan karya terbaik.
Sebagai langkah perbaikan, Saya akan lebih meningkatkan dialog, kerjasama dengan semua teman sejawat untuk ikut terlibat dalam pelaksanaan program “Tunggu Tupus” yang mampu meningkatkan minat literasi sekaligus menguatkan wawasan akademik maupun non akademik dengan pola pikir positif dan emosi positif pada peserta didik SMAN 1 Sidayu melalui kegiatan pembelajaran intrakurikuler yang melatih kompetensi literasi dengan memanfaatkan perpustakaan serta semua pendidik juga ikut terlibat dalam pelatihan menulis sebuah karya sehingga akan dihasilkan karya pendidik
DOKUMENTASI TAHAPAN PROGRAM
Foto 1. Dialog dengan kepala sekolah SMAN 1 Sidayu
Foto 3. Kunjungan perpustakaan dan melakukan dialog Dengan pengelolah perpustakaan
Foto 4.Identifikasi Data Digital Kunjungan perpustakaan
Foto 5. Melakukan dialog dengan peserta didik yang berkunjung ke perpustakaan

Komentar
Posting Komentar