COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
                        Oleh : Siti Khofifah S. Pd, M.Pd , diterbitkan 18 Desember 2022

 REFLEKSI DWI MINGGUAN MODEL 4C

Pada kesempatan ini, keterkaitan saya sebagai calon guru penggerak mendapat kesempatan untuk belajar modul 3.3. Couching Untuk Supervisi Akademik adalah karena profesi saya sebagai pendidik yang dituntut menjadi  Coach bagi murid dan bagi teman sejawat. Materi ini merupakan materi baru bagi saya, dan bermanfaat sekali bagi saya. Sebagai pendidik saya harus mampu menggali potensi murid dan sebagai CGP saya harus berbagi praktik baik pada teman sejawat agar mereka mampu secara sadar menemukan solusi atas permasalahan yang terjadi pada mereka, dan itu adalah tugas yang harus dilakukan dalam aksi nyata, dan ALHAMDULILLAH saya bisa melakukannya dengan baik. Sebelumnya saya pikir, Coaching identik dengan tugas guru BK dan supervisi akademik adalah tugas dari kepala sekolah sebagai supervisor untuk mensupervisi pendidik terkait kompetensi dalam melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid, dan merupakan proses yang menakutkan.  Dengan alur MERRDEKA dan bantuan dari Pengajar praktik, fasilitator, Instruktur melakukan  aksi nyata dan sharing dengan anggota CGP lainnya dalam ruang kolaborasi dan lokakarya akhirnya saya mampu menguasai materi tersebuat, meliputi: Apa sebenarnya Coaching dan Bagaimana peran pendidik sebagai seorang coach di sekolah itu, bagaimana prinsip dan paradigma berpikir coaching, apa saja kompetensi yang harus dimiliki agar dapat melakukan proses coaching dengan baik,  bagaimana model coaching Alur Percakapan T-I-R-T-A  yang dikembangkan dari GROW model ( Goal, Reality, Options, Will).  Bagaimana Coaching dalam kontek pendidikan dan bagaimana Paradigma berpikir coaching pada kegiatan supervisi akademik.

Fasilitator dan Instruktur berpendapat bahwa coaching memiliki tujuan dan prinsip lebih kearah memberdayakan atau menggali potensi, lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya, itulah kenapa coaching berbeda dengan bentuk-bentuk pengembangan diri yang lain seperti mentor, konseling, fasilitasi, atau training. Contohnya, dalam mentoring, mentor membagikan pengetahuan, keterampilan, dan pengalamannya untuk membantu mentee mengembangkan dirinya, sedangkan dalam coaching, coach menuntun cochee, untuk menemukan ide baru atau cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi atau mencapai tujuan yang dikehendaki. Coach tidak boleh memberikan solusi dari permasalahan yang terjadi pada coachee namun memberikan bantuan tapi sifatnya menuntun Coachee melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif sehingga dia menemukan sendiri, apa yang harus dilakukannya untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Adapun tujuan dari Prinsip dan Paradigma Berpikir Coaching dalam Supervisi Akademik adalah untuk mengembangkan kompetensi mengajar guru yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses belajar di kelas. Dengan semangat yang lebih mewarnai proses supervisi adalah semangat yang memberdayakan, bukan mengevaluasi. Namun hal yang terjadi kebanyakan pendidik sangat ketakutan jika disupervisi oleh kepala sekolah atau tim supervisi, karena takut mendapat nilai yang jelek. Padahal sebenarnya dalam supervisi akademik adalah menggali potensi diri pendidik agar menjadi otonom, yaitu dapat mengarahkan, mengatur, mengawasi, dan memodifikasi diri secara mandiri, yang pada akhirnya terjadi peningkatakan kompetensi diri meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Dari pegetahuan baru yang saya peroleh ini, jika dikorelasikan dengan praktik yang saya lakukan selama ini, maka saya tidak pernah melakukan coaching, karena lebih sering langsung memberi solusi atas permasalahan yang terjadi pada murid bukan menggali potensi murid dan sebagai tim penilai PKG juga saya tidak pernah melakukan supervisi akademik terkait pembelajaran.

Setelah mengikuti materi modul 2.3 Caching untuk supervisi akademik, akhirnya saya tahu konsep-konsep dalam Coaching untuk supervisi pendidikan. Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi hasil dan sistematis. Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Coaching sebagai bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Dalam Coaching, Ada coach dan ada Coachee. Coach memfasilitasi peningkatan performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee,  membantu seorang coachee  untuk menemukan kekuatan dirinya dengan pendekatan komunikasi yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan penuh kasih dan persaudaraan. Dapat disimpulkan tugas seorang coach adalah menggali kekuatan dan potensi diri coachee. mendorong Coachee berpikir secara kritis sehingga mampu membuat perencanaan dan melaksanakan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Dalam coaching maka seorang  Coach harus menguasai paradigma berpikir coaching meliputi: Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan, bersikap terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat dan   mampu melihat peluang baru dan masa depan, dengan mnggunakan prinsip coaching meliputi: “kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi. Ada 3 kompetensi yang harus dimiliki Coach agar dapat melakukan proses coaching dengan baik,  yaitu:(1) Kehadiran Penuh/Presence atau  disebut sebagai coaching presence sehingga kesadaran dir, badan, pikiran, hati selaras saat sedang melakukan percakapan coaching dengan Coachee, (2). Mendengarkan Aktif atau sering kita sebut dengan menyimak.  Seorang coach yang baik akan mendengarkan lebih banyak dan lebih sedikit berbicara, fokus dan pusat komunikasi adalah pada diri coachee, yakni mitra bicara,(3).Mengajukan Pertanyaan Berbobot yang menggugah diri coachee untuk berpikir dengan alur R-A-S-A (ReceiveAppreciateSummarize, Ask). Setelah menguasai materi tersebuat maka seorang coach dalam Coaching harus mampu menguasai model Alur Percakapan T-I-R-T-A  yang dikembangkan dari GROW model ( GoalRealityOptions, Will). Goal terkait apa tujuan yang hendak dicapai coachee,  Reality  terkait proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, Options terkait dengan  coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. Will (Keinginan untuk maju) terkait  komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi sanakannya. Dalam pelaksanakannya sama persis dengan alur TIRTA (Tujuan,  Identifikasi,Rencana Aksi Tanggungjawab). Dan perlu diketahui bahwa Paradigma berpikir coaching pada kegiatan supervisi akademik  merupakan kegiatan berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi pendidik sebagai pemimpin pembelajaran dalam melaksanakan pembelajaran yang berpihak kepada murid  dengan tahapan meliputi:  (1). pra-observasi (persiapan), (2).tahapan observasi (pelaksanaan), dan (3). pasca-observasi (pelaporan dan tindak lanjut).

Akhirnya Perubahan yang terjadi pada saya Setelah mempelajari materi coaching untuk supervisi akademik adalah ada morivasi intrinsik dalam diri melakukan pengimbasan dan akan melakukan coaching bagi murid dan teman sejawat yang membutuhkan terkait masalah yang dialami. Manfaatnya juga mampu meluruskan paradigma saya tentang bagaimana kita harusnya memandang dan memperlakukan murid dan orang lain saat kita memposisikan diri sebagai coach, bagaimana seharusnya menempatkan diri dalam proses menuntun murid atau membantu rekan-rekan kita atau orang lain. Dan lebih khusus lagi, bagaimana sebuah supervisi dapat berubah dari suasana menakutkan menjadi menyenangkan, dari sebuah penilaian kinerja menjadi sebuah sharing dan diskusi pengalaman dalam melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid, dan pada akhirnya menjadi sebuah refleksi bermakna yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur atau pijakan bagi guru dalam melakukan pengembangan kinerja. Semoga kita semua mampu menjadi Coaching yang berkualitas untuk melaksanakan supervisi akademik AAMIIN. 





 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MODEL PEMBELAJARAN KALENDER BUDEREKTUR

JURNALREFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM BERDAMPAK POSITIF PADA MURID