REFLEKSI DWI MINGGUAN
Pada saat melakukan aksi nyata dengan melakukan pengimbasan pada teman
sejawat terkait pemahaman 4 cara
implementasi dalam pengajaran Sosial emosional (PSE) dan 5 kompetensi sosial
emosional (KSE) disertai membagikan
praktek baik. Dalam moment pelatihan program
guru penggerak ini, saya telah mendapatkan ilmu pengetahuan baru berupa: pembelajaran
sosial emosional (PSE) dengan alur MERRDEKA. Saya
selalu bertanya terhadap instruktur jika masih merasa kebingunggan, sampai
akhirnya saya mampu menguasainya. Sebelum mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa pembelajaran sosial
emosional tidak dapat dimplementasikan dalam pembelajaran di kelas sehingga
selama menjadi guru, saya tidak pernah membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
yang menumbuhkembangkan kompetensi sosial emosional dengan tujuan pembelajaran
yang jelas. Setelah mempelajari modul ini,
ternyata pembelajaran sosial emosional
dapat diimplementasikan di kelas
dan sekolah melalui 4 indikator meliputi: pengajaran eksplisit, integrasi
dalam praktik mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim
kelas dan budaya sekolah, dan penguatan pembelajaran sosial emosional pendidik
dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah. Dari ilmu
tersebut ALHAMDULILLAH saya telah Membagikan
pemahaman kepada teman sejawat dalam
suatu rapat rutin kedinasan dan juga melalui video channel youtube terkait
implementasi pembelajaran sosial dan
emosional di kelas melalui 4 indikator tersebut. Dari moment tersebut Saya
melihat teman sejawat sangat antusies untuk mengikuti proses pengimbasan. Karena Kita semua memahami serta menyadari pentingnya
perkembangan murid secara holistik; bukan hanya intelektual, tetapi juga
fisik, emosional, sosial, dan karakter. Meningkatnya jumlah kasus perundungan,
tawuran, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, pernikahan usia dini dan
kehamilan di bawah usia, murid yang memiliki motivasi belajar
rendah hingga putus sekolah, murid dengan gangguan emosional seperti
stres, kecemasan, depresi, bahkan kasus bunuh diri pada usia remaja, menunjukkan
masih lemahnya perkembangan sosial dan emosional para murid kita. Maka,
pembelajaran yang dapat menumbuhkan kompetensi sosial dan emosional murid
adalah sebuah urgensi dalam proses pendidikan kita.
Perasaaan saya sangat senang dan bersyukur
sekali selama proses pengimbasan dengan teman sejawat di sekolah. Semakin
muncul suatu beban tanggung jawab di pundak untuk melakukan pengimbasan, mengingat
sangat pentingnya PSE bagi murid. Dalam
pengimbasan itu Letak urgensi PSE adalah untuk mendorong tumbuh kembang murid
secara holistik. Pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman belajar bagi
murid untuk menumbuhkan dan melatih lima Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE),
yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi,
dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Metode STOP (Stop,Take a
breath), I3 (I have, I am, I can),
POOCH (Problem, Options, Outcomes dan Choices), RODA EMOSI Pluchit juga
harus dikuasai supaya pendidik mampu mengimplementasikan pembelajaran KSE di kelas.
Dari pembelajaran sosial emosional (PSE)ini, akhirnya saya memiliki target membuat Rencana pelaksanaan pembelajaran KSE ( RPP KSE), dengan kompetensi meliputi: Kesadaran diri, kesadaran sosial dan Ketrampilan berelasi. Kesadaran diri Terkait Kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai situasi dan konteks kehidupan. Kesadaran sosial berkaitannya dengan Kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain. Sedang Keterampilan berelasi terkait dengan Kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif. 3 kompetensi KSE itu saya implementasikan dalam Pengajaran secara eksplisit dan Integrasi Praktek Mengajar Guru dan Kurikulum Akademik pada materi gangguan-gangguan sistem pernafasan pada manusia dengan menggunakan metode STOP, tayangan video, artikel, Diskusi, presentasi LAPD dan gambar roda emosi Plutchik. Untuk membangun kesadaran diri melalui metode STOP dan tayangan video. Membangun kesadaran sosial melalui Diskusi kelas dan presentasi LAPD dengan metode STOP serta Resolusi Konflik dengan menggunakan I-Message, lalu diakhiri dengan refleksi dari pendidik dan dilakukan penilaian secara holistik meliputi: pengetahuan ketrampilan dan sikap.
Dan ALHAMDULILLAH akhirnnya saya mampu menerapkan pembelajaran sosial emosional di kelas sesuai RPP KSE yang telah dibuat. Lalu melakukan pengimbasan disertai berbagi praktek baik yang sudah saya lakukan. Untuk memperoleh hasil yang baik sebagai suatu perbaikan dibutuhkan sikap yang mau melakukan pengimbasan dan berbagi praktek baik di luar komunitas sekolah serta sikap kolaborasi semua stakeholder sekolah disertai komitmen yang berkelanjutan. Karena pada dasarnya PSE adalah Pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan murid, pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional agar dapat: memahami, menghayati dan mengelola emosi (kesadaran diri), menetapkan dan mencapai tujuan positif (manajemen diri), merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi), membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab). 5 kompetensi tersebut terbukti efektif untuk menumbuhkan kecerdasan emosional pada murid yang akan melahirkan Well-being (Kesejahteraan psikologis); sebuah kondisi individu yang memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya. Akhirnya terciptalah generasi emas dengan profil pelajar pancasila meliputi: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berahlak mulia; berkebhinekaan global; bergotong royong; mandiri; bernalar kritis; dan kreatif.

Komentar
Posting Komentar