REFLEKSI DWI MINGGUAN


PENBELAJARAN SOSIAL  DAN EMOSI (PSE))
Oleh : Siti Khofifah S. Pd, M.Pd , diterbitkan 28 Nopemder 2022

Pada saat melakukan aksi nyata dengan melakukan pengimbasan pada teman sejawat  terkait pemahaman 4 cara implementasi dalam pengajaran Sosial emosional (PSE) dan 5 kompetensi sosial emosional (KSE) disertai  membagikan praktek  baik. Dalam moment pelatihan program guru penggerak ini, saya telah mendapatkan ilmu pengetahuan baru berupa: pembelajaran sosial emosional (PSE) dengan alur MERRDEKA. Saya selalu bertanya terhadap instruktur jika masih merasa kebingunggan, sampai akhirnya saya mampu menguasainya. Sebelum mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa pembelajaran sosial emosional tidak dapat dimplementasikan dalam pembelajaran di kelas sehingga selama menjadi guru, saya tidak pernah membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang menumbuhkembangkan kompetensi sosial emosional dengan tujuan pembelajaran yang jelas. Setelah mempelajari modul ini,  ternyata pembelajaran sosial emosional  dapat diimplementasikan  di kelas dan sekolah melalui 4 indikator meliputi: pengajaran eksplisit, integrasi dalam  praktik mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, dan penguatan pembelajaran sosial emosional pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah. Dari ilmu tersebut ALHAMDULILLAH  saya telah Membagikan pemahaman kepada teman sejawat dalam  suatu rapat rutin kedinasan dan juga melalui video channel youtube terkait  implementasi pembelajaran sosial dan emosional di kelas melalui 4 indikator tersebut. Dari moment tersebut Saya melihat teman sejawat sangat antusies untuk mengikuti proses pengimbasan.  Karena Kita semua  memahami serta menyadari pentingnya perkembangan murid secara holistik;  bukan hanya intelektual, tetapi juga fisik, emosional, sosial, dan karakter. Meningkatnya jumlah kasus perundungan, tawuran, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, pernikahan usia dini dan kehamilan di bawah usia, murid  yang memiliki motivasi belajar  rendah hingga putus sekolah, murid dengan gangguan emosional seperti stres, kecemasan, depresi, bahkan kasus bunuh diri pada usia remaja, menunjukkan masih lemahnya perkembangan sosial dan emosional para murid kita. Maka, pembelajaran yang dapat menumbuhkan kompetensi sosial dan  emosional murid adalah sebuah urgensi dalam proses pendidikan kita. 

Perasaaan saya sangat senang dan bersyukur sekali selama proses pengimbasan dengan teman sejawat di sekolah. Semakin muncul suatu beban tanggung jawab di pundak untuk melakukan pengimbasan, mengingat sangat pentingnya PSE bagi murid.  Dalam pengimbasan itu Letak urgensi PSE adalah untuk mendorong tumbuh kembang murid secara holistik. Pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman belajar bagi murid untuk menumbuhkan dan melatih lima Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE), yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Metode STOP (Stop,Take a breath), I3 (I have, I am,  I can), POOCH (Problem, Options, Outcomes dan Choices), RODA EMOSI Pluchit juga harus dikuasai  supaya pendidik  mampu mengimplementasikan  pembelajaran KSE di kelas.

Dari pembelajaran sosial emosional (PSE)ini,  akhirnya saya memiliki target membuat Rencana pelaksanaan pembelajaran KSE ( RPP KSE), dengan kompetensi meliputi: Kesadaran diri,   kesadaran sosial dan Ketrampilan berelasi. Kesadaran diri Terkait Kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai situasi dan konteks kehidupan. Kesadaran sosial berkaitannya dengan Kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain. Sedang Keterampilan berelasi terkait dengan  Kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif.  3 kompetensi KSE itu  saya implementasikan dalam Pengajaran secara  eksplisit dan  Integrasi Praktek Mengajar Guru dan Kurikulum Akademik pada materi gangguan-gangguan sistem pernafasan pada manusia dengan menggunakan metode  STOP, tayangan  video, artikel, Diskusi, presentasi LAPD dan gambar roda emosi Plutchik. Untuk membangun kesadaran diri melalui metode STOP dan tayangan video. Membangun kesadaran sosial melalui  Diskusi kelas dan presentasi LAPD dengan metode STOP serta Resolusi Konflik dengan menggunakan I-Message, lalu diakhiri dengan refleksi dari pendidik   dan dilakukan penilaian secara holistik meliputi: pengetahuan ketrampilan dan sikap. 

Dan ALHAMDULILLAH  akhirnnya saya mampu menerapkan pembelajaran sosial emosional di kelas sesuai RPP KSE yang telah dibuat. Lalu melakukan pengimbasan disertai berbagi praktek baik yang sudah saya lakukan. Untuk memperoleh hasil yang baik sebagai suatu perbaikan dibutuhkan sikap yang mau melakukan pengimbasan dan berbagi praktek baik di luar komunitas sekolah serta sikap  kolaborasi semua stakeholder sekolah disertai komitmen yang berkelanjutan. Karena pada dasarnya PSE adalah Pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan murid, pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional agar dapat: memahami, menghayati dan  mengelola emosi  (kesadaran diri), menetapkan dan mencapai tujuan positif  (manajemen diri), merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial), membangun dan mempertahankan hubungan yang positif  (keterampilan membangun relasi), membuat keputusan yang bertanggung jawab.  (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab). 5 kompetensi tersebut  terbukti  efektif untuk menumbuhkan kecerdasan emosional pada murid  yang akan melahirkan Well-being (Kesejahteraan psikologis); sebuah kondisi  individu yang memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya. Akhirnya terciptalah   generasi emas  dengan profil pelajar pancasila meliputi: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berahlak mulia; berkebhinekaan global; bergotong royong; mandiri;  bernalar kritis; dan  kreatif.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MODEL PEMBELAJARAN KALENDER BUDEREKTUR

JURNALREFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM BERDAMPAK POSITIF PADA MURID