PARADIGMA PERUBAHAN BARU MELALUI PEMBELAJARAN BERDEFERENSIASI DENGAN NILAI DAN PERAN PENDIDIK DALAM MENCIPTAKAN PEMBELAJARAN YANG BERPIHAK PADA MURID
Penulis : Siti Khofifah, S. Pd, M. Pd, Diterbitkan: 10 Nopember 2022
PARADIGMA
PERUBAHAN BARU MELALUI PEMBELAJARAN BERDEFERENSIASI DENGAN NILAI DAN PERAN PENDIDIK DALAM
MENCIPTAKAN PEMBELAJARAN YANG BERPIHAK PADA MURID
Pembelajaran berdeferensiasi merupakan Usaha menyesuaikan proses pembelajaran di
kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar dan merupakan serangkaian keputusan
masuk akal (common sense) yang dibuat oleh Pendidik yang berorientasi kepada
kebutuhan murid, keputusan tersebut terkait dengan (1.) Tujuan pembelajaran
disertai rencana pembelajaran yang menyesuaikan, untuk memenuhi kebutuhan
belajar murid, (2).Menciptakan
lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang
tinggi. Selalu ada dukungan di sepanjang proses belajar, (3) Manajemen
kelas yang efektif: menciptakan
prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas, namun juga
struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda,
kelas tetap dapat berjalan secara efektifdan (4). Penilaian berkelanjutan
menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah
dilakukan dan sumatif.
Paradigma baru yang membawa perubahan ke arah
lebih baik berupa pembelajaran berdeferensiasi harus dilakukan semua pendidik untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak
pada murid sesuai filosofi pemikiran pendidikan menurut KI Hajar Dewantara. Dan
semua itu baru berhasil jika pendidik memiliki nilai-nilai berpihak pada murid,
mampu bekolaborasi, inovatif, mandiri dan selalu melakukan refleksi dari
kegitan yang dilakukan. Pendidik sebagai
pemimpin pembelajaran harus mampu menciptakan Lingkungan positif sehingga murid
mampu mengembangkan potensinya. Mulai saai ini, Pendidik harus menyadari bahwa setiap anak itu unik dan memiliki
kodratnya masing-masing, dan hal itu
harus dijadikan dasar dalam praktik-praktik pembelajaran yang dilakukan serta
dijadikan kerangka acuan saat mengevaluasi.Sebagai pendidik tugasnya harus
menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh
dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, dan
memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan
bahagia. Pendidik harus meyakini bahwa:
(1). Semua murid kita bisa berhasil dan sukses dalam pembelajarannya, (2)
bersikap adil itu bukan berarti menyamaratakan perlakuan kepada semua murid,
(3). Setiap murid memiliki pola belajarnya sendiri yang unik,(4)
Praktik-praktik pembelajaran perlu ditelaah efektifitasnya lewat bukti-bukti
yang diambil dari pengalaman demi pengalaman, (5). Pendidik adalah kunci dari
keberhasilan pengembangan program pembelajaran murid-murid di kelasnya,(6).
Pendidik membutuhkan dukungan dari komunitas yang lebih besar untuk menciptakan
lingkungan belajar yang mendukung semua murid.
Dalam mengimplementasikan pembelajaran berdeferensiasi,
ada 3 macam Diferensiasi dan 3 macam
kebutuhan belajar murid yang harus diketahui pendidik. 3 macam deferensiasi itu
meliputi: konten,proses dan produk. Deferensiasi konten, merujuk pada strategi membedakan
pengorganisasian dan format penyampaian konten. Konten adalah materi
pengetahuan, konsep, dan keterampilan yang perlu dipelajari murid berdasarkan
kurikulum. Untuk Diferensiasi Proses, merujuk pada strategi
membedakan proses yang harus dijalani oleh murid yang dapat memungkinkan mereka
untuk berlatih dan memahami isi (content) materi. Sedang Diferensiasi
Produk, merujuk pada strategi memodifikasi produk hasil belajar murid,
hasil latihan, penerapan, dan pengembangan apa yang telah dipelajari. Adapun
3 kebutuhan belajar murid itu, Menurut Tomlinson (2001) dalam bukunya yang
berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom 3
kebutuhan dasar itu meliputi: (1). Kesiapan
belajar (readiness) murid,(2). Minat murid dan (3). Profil belajar
murid.
Kesiapan belajar (Readiness) terkait
kapasitas atau kesiapan murid untuk mempelajari materi, konsep, atau
keterampilan baru baru. Kesiapan ini terkait dengan berbagai hal, diantaranya:
pengetahuan, konsep dan keterampilan awal yang saat ini dikuasai oleh murid;
miskonsepsi; tingkat perkembangan kognitif, afektif dan fisik; keterampilan
berpikir, dan sebagainya. Ada banyak cara untuk membedakan kesiapan belajar.
Tomlinson (2001: 46) mengatakan bahwa merancang pembelajaran mirip dengan
menggunakan tombol equalizer pada stereo atau pemutar CD. Untuk mendapatkan
kombinasi suara terbaik, biasanya Anda akan menggeser-geser tombol equalizer
tersebut terlebih dahulu. Ada 6 tombol dalam equalizer mewakili beberapa
perspektif kontinum yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat kesiapan
murid meliputi :1. Bersifat mendasar - Bersifat transformatif, 2.Konkret – Abstrak, 3.Sederhana - Kompleks 4.Terstruktur –
Terbuka, 5.Tergantung (dependent) -
Mandiri (Independent), 6.Lambat - Cepat.
Perlu diingat bahwa kesiapan belajar murid bukanlah tentang tingkat
intelektualitas (IQ). Namun terkait dengan informasi tentang apakah pengetahuan
atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau
pengetahuan baru yang akan diajarkan. Adapun tujuan melakukan
identifikasi atau pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan tingkat kesiapan
belajar adalah untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran,
sehingga dipastikan murid terpenuhi kebutuhan belajarnya (Joseph, Thomas,
Simonette & Ramsook, 2013: 29).
Untuk Minat merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan
respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan
memberikan kepuasan diri.Tomlinson (2001: 53), mengatakan
bahwa tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat, adalah membantu
murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri
untuk belajar, Mendemonstrasikan keterhubungan antar semua pembelajaran;
menggunakan keterampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk
mempelajari ide atau keterampilan yang kurang dikenal atau baru bagi mereka,
dan; Meningkatkan motivasi murid untuk belajar. Minat dapat kita lihat dalam 2 perspektif,
yaitu : (1). Minat sebagai sebuah
situasional, yang merupakan keadaan psikologis dengan ciri adanya peningkatan perhatian, upaya, dan pengaruh, yang
dialami pada saat tertentu. Seorang anak bisa saja tertarik saat seorang
gurunya berbicara tentang topik hewan, meskipun sebenarnya ia tidak menyukai
topik tentang hewan tersebut, karena gurunya berbicara dengan cara yang sangat
menghibur, menarik dan menggunakan berbagai alat bantu
visual. (2). Minat sebagai sebuah
kecenderungan individu untuk terlibat dalam jangka waktu lama dengan objek atau
topik tertentu. Seorang anak yang memang memiliki minat terhadap hewan, maka ia
akan tetap tertarik untuk belajar tentang hewan meskipun mungkin saat itu
pendidik ang mengajar sama sekali tidak membawakannya dengan cara yang menarik
atau menghibur. Karena minat adalah salah satu motivator penting bagi murid
untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran. Pendidik harus memahami
2 prespektif itu, sehingga pembelajaran berbasis minat seharusnya tidak hanya
dapat menarik dan memperluas minat murid yang sudah ada, tetapi juga dapat
membantu mereka menemukan minat baru.
Sedang Profil Belajar terkait pendekatan
yang disukai murid untuk belajar, dipengaruhi gaya berpikir, kecerdasan,
budaya, latar belakang, jenis kelamin, dan lain-lain, mengacu pada cara bagaimana murid sebagai individu paling baik
belajar. Bisa
dilakukan dengan Scaffolding, yang merupakan Suatu teknik
pembelajaran di mana murid diberikan sejumlah bantuan, kemudian perlahan-lahan
diadakan pengurangan terhadap bantuan tersebut hingga pada akhirnya, murid
dapat menunjukkan kemandirian yang lebih besar dalam proses pembelajaran. Tujuan dari mengidentifikasi atau
memetakan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk
memberikan kesempatan murid belajar secara natural dan efisien, karena setiap anak memiliki profil belajar
sendiri dan supaya pendidik dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi Profil
belajar eliputi: (1). Preferensi terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait
dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan
belajarnya terstruktur/tidak terstruktur, dsb. Contohnya:
mungkin ada anak yang tidak dapat belajar di ruangan yang terlalu dingin,
terlalu bising, terlalu terang, dsb. (2). Pengaruh Budaya: santai -
terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.(3). Preferensi gaya belajar,
bagaimana murid memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru.
Sesuai 3 tipe gaya belajar, meliputi; visual,auditori dan kinestetik. Tipe visual, belajar dengan melihat (misalnya
melalui materi yang berupa gambar, menampilkan diagram, power point, catatan,
peta, graphic organizer ); tipe auditori: belajar dengan
mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras,
mendengarkan pendapat saat berdiskusi, mendengarkan musik); sedang kinestetik: belajar sambil melakukan
(misalnya bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on,
praktek dll). 4.Preferensi berdasarkan kecerdasan majemuk, mengingat murid memiliki gaya belajar berbeda , maka
pendidik harus berusaha menggunakan kombinasi gaya mengajar. Karena pada
dasarnya dalam kecerdasan majemuk
(multiple intelligences, manusia
sebenarnya memiliki delapan kecerdasan berbeda yang mencerminkan berbagai cara
kita berinteraksi dengan dunia. Kecerdasan tersebut adalah visual-spasial,
musical, bodily- kinestetik, interpersonal, intrapersonal, verbal-linguistik,
naturalis, logic- matematika.
Akhirnya sebagai pendidik dengan perubahan yang dituntut
melakukan pembelajaran berderefensiasi, kita semua tentu tahu bahwa murid akan
menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas yang diberikan sesuai dengan
keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Apalagi
jika tugas-tugas tersebut memicu
keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan memberikan
kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil
belajar) maka akan terjadi peningkatan hasil belajar. Keberhasilan dalam
mengimplementasi filosofi pemikiran
pendidikan Ki Hajar Dewantara di semua sekolah akhirnya tercapai, dengan
melakukan pembelajaran berdeferesiasi yang berpihak pada murid, menyenangkan,
menumbuhkembangkan budi pekerti baik, sesuai kodrat alam dan zaman, dan tidak
ada lagi anggapan bahwa murid adalah tabula rasa. Dengan harapan pada akhirya
kita sebagai pendidik akan mampu melahirkan generasi profil pelajar pancasila dengan 6
dimensi meliputi: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berahlak
mulia; berkebhinekaan global; bergotong royong; mandiri; bernalar kritis; dan
kreatif dengan faktor pendukung berupa nilai dan peran pendidik yang
berkualitas meliputi: mandiri, inovatif, berpihak pada murid, mampu berkolaborasi
dan reflektif. Jika nilai-nilai itu sudah dimiliki pendidik, otomatis akan
mampu berperan dalam memimpin pembelajaran, mewujudkan kepemimpinan murid
(student agency), menjadi Coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi dan
menggerakkan komunitas praktisi demi tujuan mencapai visi bersama menuju
sekolah impian sebagai upaya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional kita
Daftar Pustaka
Dewi Kusuma Oscarina, Luthfah Siti (2020). Modul 2.1 “Pembelajaran untuk
Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid” Jakarta: Direktorat Jenderal Guru dan
Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Komentar
Posting Komentar